Lembaga “Sastra Pembebasan” merupakan wacana pembebasan sastra yang diusung oleh wadah yang bernama sastra-pembebasan@yahoogroups.com dengan mempunyai visi samarasasamarata sastrakitakita, diharapkan wadah milisgroups tersebut untuk mengekspresikan hatinurani anak bangsa untuk pemerdekaan hidup bersama dalam wujud karya ‘seni rakyat untuk kerakyatan’.

Dengan begitu visi komunitas wadah sastra pembebasan mampu memaknai jatidiri bersama, yang mempunyai misi pembebasan melawan mekanisme penindasan dalam perjuangan untuk penegakan Hak Azazi Manusia, serta mendukung proses Demokratisasi di Indonesia.

Lembaga Sastra Pembebasan didirikan pada tanggal 29 September 2004 di Jakarta.

Pada bulan september/oktober 2005 Lembaga  ‘Sastra-Pembebasan’ melakukan usaha untuk menerbitkan buku ‘Antologi Puisi-Cerpen-Curhat-Esai’. Penerbitan buku tersebut dalam rangka menyambut Peringatan 40 thn G30S 1965, berisi kumpulan tulisan pengalaman dari generasi ke II, yang mengalami ekses peristiwa G30S 1965 sebagai persoalan genocide dan pelanggaran HAM berat dalam sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Warisan pengalaman generasi tersebut tentunya dialami oleh generasi yang ketika itu ikut menyaksikan proses kejadian maupun sebagai saksi mata (eyewitness) akibat dari penangkapan, penyiksaan, pembantaian dst secara langsung maupun tidak langsung. Penulisan pengalaman tersebut merupakan ekspresi dan refleksi diri yang berlaku bagi mereka yang hidup di Indonesia maupun yang bermukim di mancanegara.

Usaha kami dari Lembaga Sastra Pembebasan untuk menerbitkan buku Antologi, yaitu atas modal biaya sendiri serta usaha Gotong Royong Bahu membahu yang berbasis pada kemampuan serta sukarela kawan-kawan muda di Indonesia maupun yang bermukim di Mancanegara. Kitakita menerima terbuka atas segala bentuk usaha bantuan apapun juga yang nantinya hasil dari modal awal beserta keuntungan dari penjualan bukunya akan di pakai buat biaya pengulangan pencetakan, maupun untuk mencetak buku seri Antologi selanjutnya.

Yang paling utama dari keinginan tujuan misi kami dalam melakukan penerbitan buku Antologi yang  disebut pula cerita “Gado-gado” diharapkan berguna untuk mensosialisasi membangun Tradisi Membaca, Berdebat dan Aktif Berkreatif dengan diberikan secara gratis eksemplar buku ke berbagai perpustakaan umum, sekolah-sekolah SD/SMP/SMU/Universitas di Indonesia. Ini mengingat pentingnya untuk mencapai tujuan visi dan misi kitakita yang anti pembodohan karena hasil warisan dari sistim pendidikan versi Orde Baru yang melahirkan rendahnya SDM Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Kamipun yang di Belanda sangat senang dan gembira atas sambutan baik partisipasi kawan-kawan di Indonesia maupun di Mancanegara yang senasib dan sejiwa sebagai Korban 40 tahun Sistim Pendidikan Pemerintahan ORDE BARU. Dengan keterlibatan langsung para kawan-kawan yang secara aktif berkreatif  dalam karya tulisan anak-anak korban, korban serta pemerhati masalah peristiwa berdarah 1965 ternyata telah membuahkan keinginan niatbaik tujuan visi dan misi kitakita bersama. Tentunya keinginan bersama ini juga merupakan proses alamiah pada diri kitakita yang masih memiliki warisan sistim pendidikan Tradisi Gotong Royong Bahu Membahu Membangun Keadilan Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat di Indonesia di masa periode “ORDE LAMA”. Disisi lain kitakita pun menyadari ekses dari Kelahiran Rejim Pemerintah Orde Baru versi Suharto dan konco-konconya, yang dianggap pula berhasil mengajarkan kepada rakyatnya untuk saling membunuh, menculik, menipu, menghina dan melecehkan antar sesama anak bangsa dengan tujuan memanipulasi kebenaran sejarah peristiwa berdarah 1965.

Untuk itu kami mengucapkan banyak terimakasih atas kesuksesan kitakita untuk saling membantu serta berkesempatan mendekatkan diri kita masing-masing demi meneruskan niatbaik hatinurani perjuangan cita – cita luhur bapak-bapak kita demi mengisi visi dan misi Perjuangan Kemerdekaan Rakyat dan Negara Indonesia, iaitu  menyumbang peningkatan SDM guna penegakan keadilan sosial dan kebenaran sejarah berdarah 1965 di Indonesia.

Untuk menggambarkan semangat kawan-kawan di Tanah Air maupun di Manca Negara, kami sajikan karya Ekspresi dan Refleksi diri kawan Pringgo Widagdo sebagai sumbangan hadiah, sebuah puisi berjudul “TEKAD”.

“TEKAD”

bila hati tlah tertiup ..
tekadpun berbalut …
hari ini lima bersambut ..
kemudian sepuluh berurut ..
lagi …
seratus bergayut ..
trus ..
seribu menyambut
dan …
sejuta berlanjut …
lawanpun terkentut-kentut …
kecil atau besar
apalah bedanya
sekedar doa pun tak apa
energi berharga
rubah dunia,
rubah pikiran umat manusia,
dunia

disinilah arti kebersamaan,
kebersamaan yang tidak perlu membutuhkan
banyak waktu ntuk diterangkan,
karena sejarah tlah membuat kita satu zat,
satu warna dan satu tekad,
MERDEKA !!
atau
MATI !
demi anak pertiwi
dibumi sendiri
yang menjunjung tinggi
harga diri dan asazi
………………………………….

Jakarta 18 september 05